The Black Death, lukisan cat air karya Monro S. Orr. Perubahan iklim telah memicu peristiwa-peristiwa bersejarah, dari perang sampai penemuan.

Astrogeo (24/12/2022). Pada masa lalu, kerajaan atau kekaisaran masa lalu yang mengalami kemunduran sering dikaitkan dengan pimpinannya yang tidak cakap atau serangan dari lawannya. Tetapi, ada penelitian yang mencoba mencari hubungan antara perubahan iklim dengan peristiwa dalam sejarah. Tahukah kamu? Ternyata ada beberapa peristiwa besar yang bertepatan dengan perubahan cuaca dan iklim loh!.

Ahli Paleoklimatologi dari Swiss Federal institute di Zurich, Ulf Büntgen, dan rekan-rekannya berkolaborasi dengan para arkeolog menghasilkan gambaran rinci tentang hubungan iklim dengan masyarakat. Dan para peneliti tersebut membuat pusat data yang terdiri dari 9.000-an potongan kayu dari 2.500 tahun yang lalu. Sampel ini berasal dari pohon hidup, sisa-sisa bangunan, dan artefak kayu lainnya. Semua sampel berasal dari Prancis dan Jerman.

Dengan mengukur luas cincin pertumbuhan tahunan kayu, para peneliti dapat menentukan suhu dan curah hujan tiap tahun. Untuk mendapatkan suhu tahunan, para peneliti mengukur lingkaran-lingkaran dalam kayu dari pohon konifer yang tumbuh lebih cepat saat musim panas dan lebih lambat saat dingin datang. Untuk memperoleh tingkat curah hujan, para peneliti melihat lebar lingkaran di pohon oak yang tumbuh lebih cepat saat curah hujan tinggi. Mereka juga menggunakan metode lain untuk memastikantahun-tahun yang diwakili lingkaran-lingkaran itu.

Hasil dari analisis tersebut menunjukkan perubahan iklim yang kita alami sekarang belum pernah terjadi pada 2.500 tahun terakhir. Data tersebut menghubungkan pola cuaca dengan data tahun tertentu, para peneliti juga dapat memastikan cuaca dengan momen tertentu dalam sejarah. Data menunjukan iklim mempengaruhi budaya dengan cara yang dramatis.

Contohnya, pergeseran tidak biasa pola cuaca yang ekstrem antara tahun 250 hingga 550, bertepatan dengan periode pergolakan politik dan ekonomi di Eropa. Saat pola cuaca kembali stabil pada sekitar tahun 700 sampai 1000, masyarakat kembali berkembang di pinggiran barat laut Eropa. Pada sekitar tahun yang sama, koloni Nordik berkembang di Islandia dan Greenland.

Litograf imbas Black Death karya Pieter Bruegel.

Diperkirakan iklim juga menjadi salah satu faktor dalam epidemi Black Death yang menewaskan setengah populasi Eropa pada tahun 1347. Selama puluhan tahun menjelang wabah ini, penelitian menunjukan terjadi musim panas yang basah dan cuaca dingin. Kondisi ini kemungkinan menyebabkan meluasnya kelaparan dan tingkat kesehatan yang memburuk. Sehingga orang-orang mudah terjangkit wabah.

Cuaca basah berkepanjangan hingga 300 tahun yang mendorong persebaran wabah pes pada abad pertengahan, bertepatan dengan kemerosotan Kekaisaran Romawi. Contoh lainnya, ada cuaca dingin pada awal abad ke-17 yang bertepatan dengan Perang Tiga Puluh Tahun di Eropa. Pada masa perang ini banyak orang meninggalkan Eropa dan bermigrasi ke Amerika. "Mereka pergi bukan karena ada perang, tapi karena cuaca dingin. Tapi, kepindahan tidak banyak membantu. Masyarakat telah banyak kena dampak pergolakan politik dan mereka mendapat penderitaan tambahan dari musim panas yang dingin," ujar Büntgen.

"Ini tidak memberi prediksi apapun. Tapi, ini membantu kita menerima saat harus mempertimbangkan sesuatu," Tutur Büntgen. Ia juga menegaskan bahwa penemuan korelasi ini tidak membuat perubahan iklim menjadi penyebab sejumlah peristiwa sejarah. Dengan melihat masa lalu, penelitian ini dapat membantu masyarakat mempersiapkan diri dengan lebih baik untuk perubahan iklim di masa mendatang. "Kita perlu memiliki pengetahuan yang lebih baik tentang sistem iklim pada masa lalu dan memahami keberagamannya untuk situasi saat ini," lanjutnya.

Penyimpangan iklim global pada 1816-1817 termasuk fenomena salju merah di Eropa merupakan buah dari petaka sebuah gunung di Pulau Sumbawa, Tambora.